Sunday, February 19, 2012

hidup sederhana


Saya adalah anak pertama dari pasangan yang cukup sehari. Ayah saya kini bekerja di perusahaan yang kata orang bonafit, perusahaan terbesar yang memproduksi baja. Ibu saya seorang ibu rumah tangga yang sabar, baik dan pinter memasak. Menurut saya mereka pasangan yang serasi. Ayah giat sekali dalam bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan. Setiap permintaan yang terlontar dari anak-anaknya, beliau selalu menjawab "Iya nanti yaa kalau ada rezeki". Memang jawaban yang klasik tetapi saya tidak pernah menuntut saat itu juga kebutuhan saya terpenuhi karena saya sadar ayah saya bukan seorang Direktur atau pengusaha. Saya harus sabar menunggu rezeki datang. Sampai sekarang ini, saya tidak pernah banyak menuntut. Walau saya hidup di lingkungan yang serba berlebihan (Fikom), saya tidak tertarik menjadi seperti mereka. Saya yaa saya. Buat saya, materi itu perlu tapi bukan sesuatu yang wah yang harus dibanggakan oleh anak-anak dari bapak yang kaya raya. Di saat teman-teman saya hidup berfoya-foya setiap sat, saya bisa hidup dengan sederhana. Saya mau makan di warteg, ngga harus di cafe-cafe atau makan makanan yang lagi in kaya sushi. Agak lucu sama orang Indonesia sih. Kalo lagi tren makan sushi, yang lain ikut-ikutan makan sushi. Sampe-sampe sushi bisa menghilangkan kebetean mereka. Sekilas aja yaa. Ya karena kedua orangtua saya menanamkan didikan sederhana itu, terutama ayah saya. Beliau dulu hidup dari keluarga yang pas-pasan. Kakek saya hanya seorang kepala sekolah yang harus menghidupi 10 anak. Sedangkan nenek saya ibu rumah tangga. Wajar jika ayah menanamkan kesederhanaan kepada anak-anaknya. Beliau selalu bilang kita mati ngga bawa harta tapi ibadah. Saya bangga dengan ayah saya walaupun beliau 2 tahun lagi akan pensiun dan sudah mulai jenuh bekerja, mungkin karena umurnya yang sudah tua.Di saat adik saya minta untuk melancong ke luar negeri, saya tidak pernah punya keinginan itu karena saya tahu kondisi keluarga saya saat ini. Kita harus terbiasa hidup hemat sebelum ayah pensiun. Saya pernah bilang ke adik saya ngapain sih lo ke luar negeri terus? kasian papa mama cari duit sana sini." Menurut saya ke luar negeri itu bukan kebutuhan pokok. Ya adik saya memang hobi travelling, sayangnya dia bukan tipe orang yang mudah menahan kemauannya seperti saya. Saya, anak pertama harus mencontohkan yang baik untuk adik-adik saya walaupun ada keinginan untuk menghabiskan waktu di luar negeri tetapi kembali lagi kepada keadaan yang tidak memungkinkan. Beda dengan dulu. Saya sangat tahu itu dan adik saya pun tahu. Sekarang dia malah agak marah karna nasihat saya. Bukankah saya berkata dengan benar? apa itu menyakitinya? Saya ingat pesan mama saya beliau pernah bilang "Mama pusing, adik kamu tuh udah tau keadaan lagi gini tapi maksa mau ini itu." Apakah saya salah jika saya berusaha menasihati adik-adik saya yang kelak akan menjadi tanggung jawab saya sebagai anak pertama? Saya rasa sudah cukup hidup enak, belanja barang-barang yang mungkin orang lain nggak bisa beli, jalan-jalan ke luar kota bahkan ke luar negeri. Keadaan sekarang beda dengan dulu papa udah mau pensiun.Saya berjanji di kemudian hari saya akan membantu ekonomi keluarga saya. Saya akan membiayakan adik-adik saya untuk sekolah sampai tamat sarjana bahkan magister. Saya akan membahagiakan mama dan papa saya. Saya akan bawa mereka belanja, jalan-jalan, beli barang-barang rumah tangga terbaru. Saya akan membahagiakan adik-adik saya dengan uang saya sendiri. Bimsillah. saya yakin Allah akan mendengar keinginan yang saya tulis ini. amin

No comments:

Post a Comment